Hikmah
“Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur, janganlah begitu karena kelak kamu akan mengetahui, janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui akibat dari perbuatanmu dengan pengetahuan yang yakin, niscahya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim dan sesungguhnya akan melihat dengan ainulyaqin, pada saat itu kamu akan ditanyai tentang kenikmatan yang kamu megah-megahkan di dunia” (At Takatsur)
Mungkin kisah ini fiktif, entah benar atau tidak. Wallahualam…Tapi bisa kita ambil hikmahnya.
Semoga berkenan, dan bisa diteruskan ke teman lain.
Bocah Aneh Menghendaki Bercahayanya Hati Manusia
Bocah itu menjadi pembicaraan di kampung Ketapang. Sudah tigahari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja di atasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.
Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan ke sana ke mari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat di plastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi di tengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.
Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan
selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari di kampung itu lebih
terik dari biasanya.
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu.
Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan
memeragakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti
isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu
kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang,
bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang
menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang
kampung, belakangan ini, setiap bakda dzuhur, anak itu akan muncul
secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama
dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti
isi daging yang sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma, ya itu tadi, bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar.
‘Bismillah.. .’ ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir, kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu ‘bocah beneran’ pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu..
Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman.. Luqman pun menyentak tangannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.
‘ Ada apaTuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?’ tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.
‘Maaf ya, itu karena kamu melakukannya di bulan puasa,’ jawab Luqman
dengan halus, ‘apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga
berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah
menggoda orang dengan tingkahmu itu..’
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak
itu.Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap
Luqman lebihtajam lagi.
‘Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup di bawah garis kemiskinan pada sebelas bulan di luar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?
Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?
Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit
menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan
hingga kematian menjemput ajal..?!
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi
kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu,
ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?’
Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untukmenyela.
Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar ’sangat’ menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.
‘Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami
senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang
tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa
sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah
yangmenyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya,
lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan
yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian
menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?
Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis,
bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.
Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami,
dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa
yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap
orang-orang kecil seperti kami…!
Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?
Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling
Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan
hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah
Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?
Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…,
jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan
‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akanpernah menyatu
dengan bumi kelak…’
Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat
demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa
dihentikan.
Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar
adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah
bocah sembarangan.
Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitusadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya,tapi ia tidak menemukan bocah itu.
Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung
jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang
menunggu penasaran di depan rumahnya pun mengaku tidak melihatbocah itu
keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!
Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia
ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional,
tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yangmasuk akal saja.
Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.
Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering
melupakan orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak
berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki
penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka
yang sedang berada di atas, yang sedang mendapatkan karunia Allah,
jangan sekali-kali menggoda orang kecil,orang bawah, dengan berjalan
membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita
terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang
membungkuk menahan lapar.
Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah
yang luarbiasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati
mata hatinya.
Sekarang yang ada di pikirannya,entah mau dipercaya orang atau tidak,
ia akan mengabarkan kejadian yangdialaminya bersama bocah itu sekaligus
menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang
dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.
Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
dikirim oleh YADIN HADIWIJAYA (yadin_h@yahoo.com)
Visitors :3166 Org
Hits : 21676 hits
Month : 155 Users